Be a lake not a well, jadilah Danau, jangan jadi Sumur
Satu kisah nyata yang saya dengar beberapa tahun yang lalu, bahwa di salah satu kampus yang terkenal di salah satu provinsi di indonesia, pada sebuah organisasi kampus yang bergerak di bidang dakwah, seorang mahasiswa melihat seorang mahasiswi sedang sendiri seperti tampak melamun. Lantas mahasiswa ini yang tiada lain adalah Ketua dari organisasi tersebut menghampiri sambil bertanya tentang hal yang terjadi kepada mahasiswi itu yang ternyata ia adalah salah satu anggota dari organisasi tersebut. Kemudian mahasiswi itupun menceritakan perihal masalah tentang dirinya yang belum dapat melunasi biaya semesteran di kampus tersebut yang menyebabkan dirinya tidak bisa mengikuti Ujian Semester, mendengar alasan seperti itu, Ketua ini langsung bertanya perihal jumlah yang dibutuhkan, dan ketika ia tahu jumlahnya, iapun bergegas untuk mengambil uang dari dompetnya dan memberikan uang sejumlah yang dibutuhkan. Dan mahasiswi tersebut menerimanya dengan sedikit berat namun memang itulah yang saat ini sangat dibutuhkan.
Singkat kisah,
selang beberapa hari anggota lainnya sering melihat ketika jam istirahat masuk
ke ruangan organisasi untuk minum air. Esok harinyapun begitu, dan begitu
hampir setiap harinya. Sehingga salah satu anggota dari organisasi itu
memberanikan diri bertanya kepadanya perihal kenapa ia sering masuk keruangan
organisasi hanya untuk minum saja, awalnya beliau enggan bercerita, namun
akhirnya Ia pun bercerita perihal kejadian bebrapa hari yang lalu tentang
mahasiswi yang membutuhkan uang untuk pembayaran semesteran. Yang membuat
anggota ini kaget adalah bahwa uang yang diberikan kepada mahasiswi itu adalah
uang saku dirinya untuk satu bulan. Sehingga sisanya hanya bisa digunakan untuk
beberapa hari, dan untuk memenuhi kebutuhan dirinya ia perbanyak dengan minum.
Sehingga beberapa hari ia tidak makan, tapi hanya minum air galon saja.
Masya Allah,
siapa yang tidak simpatik dari apa yang dilakukan pemuda ini, ditambah lagi hal
ini bisa menjadi teladan bagi para pemimpin yang sering atau tak pernah mau tau
atau pura pura tidak tau dengan masalah yang terjadi terhadap anggotanya.
Singkat kelanjutan
kisahnya adalah, ketua organisasi Dakwah ini mengadakan acara bersama semua
anggotanya, setelah acara selesai ditengah perjalanan pulang terjadi kecelakaan
pada dirinya, yang kemudian dilarikan ke rumah sakit, hingga kondisinya koma. Mendengar
kabar berita ini, semua anggota beserta hampir seluruh organisasi yang ada
dikampus itu bersatu mengumpulkan dana untuk keselamatannya. Namun takdir
berkendak lain, beliau meninggal.
Sungguh,
ketika penulis menulis kisah ini terasa gemetar, terasa begitu istimewanya
manusia ini, begitu rindunya kita terhadap satu sosok pemuda semacam ini.
Semoga Allah senantiasa menempatkan dirinya pada tempat yang membuat dirinya
dipenuhi oleh rahmat dan pengampunan-Nya. Amiin..
Ibroh apa yang
bisa kita ambil dari kisah diatas?,
Bahwa Danau lebih mudah diambil
manfaatnya, dari pada sumur.
Danau adalah telaga luas yang airnya mudah
diambil kapan saja dan cenderung tidak akan habis.
Tapi sumur adalah kolam yang dalam, disaat
menginginkan airnya harus dengan kerja keras untuk menimbanya, dan airnya pun cenderung
cepat habis.
Manusia atau pemuda yang baik itu ia
bagaikan danau yang terus menerus dan tak pernah berhenti memberikan manfaatnya
untuk sekitar, begitu pula mudah untuk diambil manfaatnya. Bukan menjadi sumur,
yang cenderung lebih sedikit manfaatnya, dan tidak mudah untuk diambil
manfaatnya.
Sebagai
manusia, kita dituntut untuk menjadi manusia yang banyak menebar manfaat. Sebagaimana
sabda Rosulullah ﷺ., “Sebaik – baik manusia adalah yang bermanfaat
untuk manusia lainnya.”..., jadi kita harus menjadi manfaat bagi orang lain,
bukan menjadi penyebab bertambahnya masalah untuk orang lain. Bukankah kita
senang dengan orang yang sering kali memberi bantuan kepada kita ketika kita membutuhkannya,
dan kita pasti akan lebih senang dengan orang yang justru ia memberikan bantuan
kepada kita tanpa kita meminta pertolongan kepadanya. Orang semacam ini
kehadirannya pasti disenangi, dan tidak menjadi ancaman orang lain. Atau bahkan
keberadaan di butuhkan, karena kebaikan dan loyalitas kemanusiaan yang ada pada
dirinya.
Sikap/sifat mudah dan memudahkan adalah sifat Sahlin yang disebut oleh Rasulullah sebagai salah satu sifat dari
empat sifat yang mampu menjauhkan diri dari panasnya api neraka. sebagaimana
hadit “Diharamkan atas api neraka setiap orang yang Hayyin (Tawaddu/rendah hati), Layyin
(Lemah lembut), Qorib (Dekat), Sahlin (mudah berhubungan)”. (HR. Ahmad)
v Sifat Hayyin/Tawaddu
(Rendah Hatti)
Dengan sifat tawadhu, manusia sama sekali tidak direndahkan karena nya, sama
sekali tidak
merendahkan apalagi sampai menghilangkannya. Justru karena
tawaddu ini manusia mampu bertambah tinggi dan mulia, Rasulullah ﷺ berpesan dalam
sabdanya, “Rendah hati itu tidak menambah seseorang
melainkan ketinggian. Karena itu bersikaplah rendah hati, pasti Allah akan
meninggikan derajatmu”.
Seorang yang
berilmu, kemuliaanya bukan karena banyaknya ilmu yang milikinya, tetapi disebabkan
karena sikap ke-tawaddu-annya terhadap ilmu yang dimilikinya yang membuatnya
semakin tinggi. Sebaliknya seorang yang sombong atas ilmu yang dimiliki, dialah
orang yang sebenarnya rendah dihadapan Allah, bahkan orang yang sombong atas
ilmunya dan merasa banyak tahu, dialah justru orang yang tidak tahu apa – apa.
Semoga Allah senantiasa menganugrahkan ke-tawaddua-an kepada kita semuanya.
Berikut ciri
rendah hati, orang yang rendah hati(tawaddu) cenderung ….
ØBanyak mendengar, sedikit berbicara
ØTidak iri dengan keberhasilan orang lain
ØMenerima masukan atau pendapat orang lain
ØTidak gengsi buat mengaku salah
ØBisa diajak kompromi
ØPunya banyak teman
ØMampu mengendalikan ego
Orang yang rendah hati sangat kecil
kemungkinannya terlibat dalam perselisihan atau ketidaksepakatan demi dirinya sendiri.
Ø Mendahulukan
orang lain
Ø Rasa
ingin tahu yang tinggi
Orang rendah hati biasanya selalu haus akan
pengetahuan yang bukan untuk disombongkan.
Ø Mudah
berterima kasih
Ø Tidak
segan meminta bantuan kepada orang lain
v Layyin (Lemah
Lembut)
Lemah lembut bukan
berarti lemah, bukan pula tidak berdaya, lemah lembut justru adalah kekuatan
hati untuk mampu menghadirkan sikap yang justru memberikan kenyaman setiap
orang disekitar kita. Lawan kata lemah lembut bukanlah kasar, karena lemah
lembut adalah kebaikan, dan kasar adalah perkara kemaksiatan, maka sesuatu yang
baik tidak bisa disandingkan dengan sesuatu yang tidak baik. Maka lawan dari lemat
lembut adalah tegas. Pemuda muslim yang keren itu ia berbuat lemah lembut
terhadap siapapun, namun tegas terhadap aturan atau syariat yang diselewengkan.
Oleh karenanya
Manusia cenderung lebih senang kepada para sahabatnya yang lemah lembut, karena
lemah lembut adalah keindahan sikap, ia cenderung murah senyum, ramah dan tutur
kata yang baik serta nyaman didengar.
Diantara tanda – tanda layyin itu adalah:
Ø
Gak bisa
mendengar orang yang berbicara kasar
Ø
Hati gampang
sakit ketika melihat orang lain menderita
Ø
Rasa –
rasanya, selalu ingin menolong semua orang yang kesusahan
Ø
Gak bisa
marah, biasanya, saat kesal kamu hanya bisa memendamnya
Ø
Juga sangat
peka dengan lingkungan disekitarmu
v Qorib (Dekat)
Sifat ini
adalah satu sisi kemanusiaan dari makhluk sosial bernama manusia, cenderung
lebih membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sosialisasi dan
komunikasinya. Ia adalah teman yang enak diajak ngobrol, teman yang mudah
bergaul, teman yang mudah dekat dengan orang lain. Bila menemukan orang semacam
ini, jangan dicap sebagai orang yang sok kenal, tapi ia adalah Qorib, orang
yang mudah dekat dengan siapapun.
Qorib tidak memandang persahabatan dari
sisi kemampuan hidup, bukan pula usia dan bukan juga dari kesuksesan seseorang,
namun selalu memandang bahwa teman – temanya adalah manusia seperti bagaiman
kita. Dan mereka semua ingin
diperlakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Berbicara
qorib, maka kita berbicara tentang seni pergaulan dalam kehidupan kita sehari
hari. Sikap yang salah akan menimbulkan polemik baru hingga menjadikan masalah
baru dalam kehidupan, Beberapa hal yang dapat menjadikan kita smart dalam bergaul, berikut ini yang
bisa dilakukan,
Pertama, tak perlu banyak teman, tapi pintar memilih mana yang patut
dipertahankan, jadi pilihkan teman –
teman yang semangat dan menyemangatkan, baik semangat dalam urusan dunia,
terlebih ladi urusan akherat
Kedua, tahu siapa yang harus dihindari secara perlahan. Teman beracun memang
harus segera dihindari, tapi buatlah seakan – akan mereka tidak tahu bahwa
sebenarnya kamu sedang menjauhi secara perlahan, lalu mulailah menyaring siapa
teman – teman yang cocok denganmu
Ketiga, pandai mengatur emosi, dan tak mudah terprovokasi. Manajemen hati sangat
diperlukan untuk mengatur emosi, itulah keuggulan orang – orang yang smart.
Dari sekian banyak informasi yang diterima ia pandai memilih dan tidak asal
dalam bersikap terhadap kabar yang baru diterimanya.
Keempat, berusaha selalu memberi seolusi bukan menyalahkan. Dalam persahabatan,
tak jarang terjadi salah faham, karena bila seorang muslim yang berselisih antara
satu dan lainnya, maka biasanya terjadi salah faham dalam memandang sesuatu.
Oleh karena itu tugas kitalah lah yang mendamaikan dengan bijak dalam mencari
solusi solusinya.
v Sahlin (Mudah dan memudahkan)
Rosulullah
seketika pergi kepasar dan menemukan seorang ibu yang meminta beliau untuk
membawakan barang belanjaannya, tanpa menolak beliau langsung membawakan
belanjaannya sampai ke rumah ibu tua tadi. Rosulullah tidak mengatakan bahwa
dirinya adalah Rasulullah ketika beliau dimintai tolong.
Kita tahu bahwa beliau adalah orang yang
sangat sibuk mengurusi urusan umat namun beliau masih bisa memudahkan urusan
orang – orang di sekitarnya. Rosulullah memudahkan urusan orang lain sampai –
sampai ia meninggalkan urusannya sendiri.
Sebagaimana rasulullah saw bersabda, “barang siapa memudahkan urusan orang lain
yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan baginya di dunia dan
akhirat”. (HR. Muslim)
Pada kisah yang
lain, mungkin kita pernah mendengar bahwa rosulullah saw selepas sholat beliau
selalu menemui pengemis tua yang buta yahudi. Rosulullah selalu memberi makan
pengemis buta itu, bukan hanya memberinya makan, tapi beliaupun menyuapinya dengan
tangannya sendiri, karena itu adalah memudahkan sang pengemis. Dalam kisah
lain, Rosulullah saw saking memiliki
sifat sahlinnya, ia mengunyah makanan itu dengan mulutnya kemudian diberikan
kepada pengemis buta itu. Luar biasanya, pengemis buta itu adalah seorang
yahudi, yang setiap kali Nabi Muhammad memberinya makan, pengemis buta itu
selalu mengatakan hujatan dan kebenciannya kepada Nabi, namun Rosulullah tetap
diam dan tidak mengatakan bahwa dirinya adalah Muhammad yang dibencinya. Di
akhir kisah ketika pengemis buta tahu bahwa orang yang kerap kali menyuapinya
adalah Rosulullah saw, akhirnya iapun bersyahadat.
Komentar
Posting Komentar